Minggu, 26 Agustus 2018

RANGKUMAN “TITI MANGSA” DARI KERAJAAN TALAGA HINGGA MENJADI KABUPATEN MAJALENGKA










Majalengka adalah nama yang digunakan untuk sebuah Kabupaten yang terletak di Jawa Barat. Sebagai Kota Kabupaten sudah tentu daerah ini mempunyai sejarah serta asal-usulnya sendiri

Pada zaman kerajaan Hindu-Buddha abad ke-13, di wilayah Kabupaten Majalengka terdapat sebuah Kerajaan yang bernama Kerajaan Talaga, Masa kejayaan Keruajaan talaga yaitu, ketika di pimpin oleh seorang Raja yang bernama Prabhu Darmasuci II atau yang terkenal dengan sebutan Prabhu Talagamanggung, karna itulah Keajaan talaga hingga kini sering disebut sebagai Kerajaan Talagamanggung.
Kerajaan Talaga di dirikan oleh seorang Raja Resi keturunan Galuh pakuan yang bernama Rhakeyan Sudhayasa atau bergelar Bathara Gunung Bitung.
Terdapat banyak cerita rakyat tentang kerajaan tersebut yang sampai dengan saat ini masih hidup di kalangan masyarakat Majalengka. Selain cerita rakyat yang masih diyakini juga terdapat situs, makam-makam dan benda-benda purbakala, yang kesemuanya itu selain menjadi kekayaan daerah juga dapat digunakan sebagai sumber sejarah.

===============================++
1. Rhakean çuddhayocha (Sudhayasa) Batara Gunung Bitung (1350 – 1366)
2. PRABU DARMA SUCI I (1366 – 1386)
3. Rd. Talagamanggung / PRABU DARMA SUCI II (1386- 1410)
4. Ratu Nyimas Dewi Simbarkancana (1410 – 1450)
5. Batara Sukawayana / SUNAN PARUNG (1450 – 1500)
6. RATU PARUNG & Rd. RANGGAMANGTRI (1500 – 1550)
7. ARYA KIKIS (1550 – 1590)
8. Rd APUN SURAWIJAYA / Sunan Kidul (1590 – 1635)
9. Rd Arya Adipati Surawijaya / Sunan Ciburuy (1635 – 1675)
10. Rd Adipati Suwarga / Sunan Suwarga (1675 – 1715)
+=========================================++
11. th 1716 Talaga di bagi dua wilayah dengan dipimpin oleh :
 
i. Kesultanan Talagakidul, dipimpin oleh Adipati Wiranata;

ii. Kesultanan Talagakaler, dipimpin oleh Pangeran Natadilaga
 
12. pada tahun 1756 disepakati bahwa Talaga dibagi menjadi empat sudut mata angin kabupatian yang meliputi:
 
i. Kebupatian Talagakidul; dipimpin oleh Pangeran Adipati Sacanata, putra ke-3 Pangeran Adipati Wiranata;
ii. Kebupatian Talagakaler; dipimpin oleh Pangeran Arya Sacadilaga, cucu Pangeran Arya Natadilaga;
iii. Kabupatian Talagawetan; dipimpin oleh Pangeran Kartanagara, putra ke-4 Pangeran Adipati Wiranata;
iv. Kabupatian Talagakulon; dipimpin oleh Dalem Surya Sepuh, cucu Pangeran Adipati Jayawiriya
Para pemimpin ini kemudian dikenal dengan sebutan PANGERAN PAPAT
 
13. Tahun 1806 pemerintahan kolonial belanda mengharuskan .empat kabupatian talaga mnjadi satu wilayah kabupaten yang dimpin oleh arya sacanata. Yang kemudian hari disebut sebagai BOPATI PANUNGTUNG
 
14. Tahun 1819 Berdasarkan Besluit Komisaris Jenderal Hindia Belanda Nomor 23 Tahun 1819 Tanggal 5 Januari 1819 tentang Pendirian Kabupaten Maja.
Regenschaft Maja bukan gabungan Talaga dengan Sindangkasih saja, tapi termasuk Rajagaluh, Palimanan, dengan Kedongdong. Ada tulisan yang menyebut Kabupaten Talaga dengan Kabupaten Maja agung, kala itu belanda mengharuskan gabung (regrouping) menjadi kabupaten Maja (1819-1840),
 
15. TAHUN 1920 pasca penggabungan antara Kabupatian Talaga dan Sindangkasih tidak ada yang memegang kekuasaan secara politik, maka para sesepuh Talaga bermusyawarah untuk menentukan orang yang akan memegang dan mengurus benda-benda pusaka karuhun (leluhur) Talaga. Disepakatilah bahwa yang berhak mengurus benda-benda itu adalah keturunan yang memunyai hubungan langsung dari Pangeran Sacanata II

Berikut adalah orang-orang yang mendapat tugas mengurus benda-benda Pusaka Karuhun Talaga, yang selanjutnya mereka disebut para sesepuh Talaga:
+=================================================++

1. Pangeran Sumanagara (1820-1840), putra sulung Pangeran Arya Sacanata II;
2. Nyi Raden Anggrek (1840-1865), putri Pangeran Sumanagara;
3. Raden Natakusumah (1865-1895), putra Nyi Raden Anggrek;
4. Raden Natadiputra (1895-1925), putra Raden Natakusumah;
5. Nyi Raden Masri’ah (1925-1948), putri Raden Natadiputra;
6. Raden Acap Kartadilaga (1948-1970), suami Nyi Raden Masri’ah;
7. Nyi Raden Madinah (1970-1993), putri Raden Acap Kartadilaga;
8. Nyi Raden Padnalarag (1993-2014), putri Nyi Raden Madinah
9. Raden Apun Tjahya Hendraningrat (2014-sekarang) putra Nyi Raden Padnalarang

+=================================================++
16. Tahun 1840 Berdasarkan Staatsblad Nomor 7 tentang Besluit Gubernur Jenderal Hindia Belanda Nomor 2 Tahun 1840 tanggal 11 Februari 1840 tentang :
a. Perubahan Nama Kabupaten Maja menjadi Kabupaten Majalengka;
b. Perubahan Nama "daerah Sindangkasih" menjadi Kabupaten Majalengka atau Pendirian Kota Majalengka sebagai ibukota Kabupaten Majalengka.

+=================================================++
BERIKUT NAMA NAMA BUPATI MAJALENGKA :

1. RT. Dendranegara 1819 – 1848 (BUPATI MADJA)
2. RAA. Kartadiningrat 1848 - 1857
3. RAA. Bahudenda 1857 - 1863
4. RAA. Supradningrat 1863 - 1883
5. RAA. Supriadipraja 1883 - 1885
6. RMA. Supraadiningrat 1885 - 1902
7. RA. Sastrabahu 1902 - 1922
8. RMA. Suriatanudibrata 1922 - 1944
9. RA. Umar Said 1944 - 1945
10. R. Enoch 1945 - 1947
11. R.H. Hamid 1947 - 1948
12. R. Sulaeman Nata Amijaya 1948 - 1949
13. M. Chavil 1949
14. RM. Nuratmadibrata 1949 - 1957
15. H. Aziz Halim 1957 - 1960
16. H. RA. Sutisna 1960 - 1966
17. R. Saleh Sediana 1966 - 1978
18. H. Moch. S. Paindra 1978 - 1983
19. H. RE. Djaelani, SH. 1983 - 1988
20. Drs. H. Moch. Djufri Pringadi 1988 - 1993
21. Drs. H. Adam Hidayat, SH., M.Si 1993 - 1998
22. Hj. Tutty Hayati Anwar, SH., M.Si 1998 - 2008
23. H. Sutrisno, SE., M.Si 2008 – 2018
24. H. Karna Sobahi 2018 s/d Sekarang
+===============================================++
Sumber rujukan.
1. Grup Madjalengka Baheula
2. Komentar grumala dari bapak tatang ( Mang Tatang Uny)
3. Komentar grumala dari bapak Rahmat Iskandar
4. Komentar dari kang M Abduh Nugraha Angguh
5. Dan sumber lainnya,


Informasi tentang Sejarah & Budaya Talaga - Majalengka
Klik di :
Penulis : Asep AsDHA Singhawinata

Tidak ada komentar:

Posting Komentar