Tampilkan postingan dengan label KARYA SENI DAN BUDAYA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label KARYA SENI DAN BUDAYA. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 18 Maret 2017

LEUIT KEMENDETTI





LUMBUNG PADI LEUIT KEMENDETI
LEUIT KHAS TALAGA


REFLIKA LEUIT KEMENDETI
DI HALAMAN MUSEUM TALAGAMANGGUNG TALAGA


JENIS : LUMBUNG PADI (LEUIT)
NAMA : LEUIT KEMENDETTI

ERA : - S/D 1858
UKURAN : 2 X 3 M

KOLEKSI : Museum Talagamanggung


DESKRIPSI :

LUMBUNG (Leuit Kemendetti) ini pernah di ulas oleh de Seyff seorang peneiti asal Prancis, beliau mengatakan, leuit ini berada di sebuah rumah besar (Bhumi Ageung )di Talaga.
Kemendetti istilah untuk sebuah tempat yang artinya milik para raja.. leuit kemendetti berari lumbung tempat penyimpanan hasil pertanian milik Kerajaan. namun sangat disayangkan. leuit kemendetti di halaman Bhumi Ageung talaga sudah tidak ada,
Tapi pada tahun 2016 di bangun kembali reflika leuit kemendetti di halaman samping museum Talagamanggung dan batu pondasi leuit, masih menggunakan bekas peninggalan leuit yang aslinya.
(sumber cariosan prabu siliwngi // viviane suganda)



Ilustrasi :
upacara penyerahan hasil pertanian , untuk di dimpan di dalam Leuit


Data:
Benda ini di foto pada : 10 Maret 2017
Fotografer : Indra Gunawan & Ade Nurdiana
Editing : M. Aria Bishma Fz
Lokasi Pemotretan : Museum Talagamanggung
No Inv : -
Koleksi : Museum Talagamanggung
Origin :Talaga - Indonesia


Rujukan :
Team Peneliti Sejarah Budaya Talaga &
Ketua Yayasan Talagamanggung




Informasi tentang Sejarah & Budaya Talaga - Majalengka
Klik di :
Penulis : Asep AsDHA Singhawinata











“BENDA PENINGGALAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN , BUKAN WARISAN DARI NENEK MOYANG KITA, TAPI MERUPAKAN TITIPAN DARI ANAK CUCU UNTUK KITA JAGA KELESTARIANNYA, SATU SAAT MERAKA AKAN MENANYAKAN HAK MEREKA UNTUK IKUT MELESTARIKAN DAN MEMPELAJARI PERADABAN SEJARAH BUDAYA LUHUR DARI NENEK MOYANGNYA”

Kamis, 16 Maret 2017

KOIN KUNO "GOBOG"





Jenis : ALAT TUKAR KUNO

Nama : KOIN GOBOG (UANG KUNO )

Era : abad ke  - 

Bahan Material : BERBAGAI LOGAM

Dimensi :

PANJANG Total : 

Diameter : -


Deskripsi : 


Gobog adalah sebutan masyarakat pulau jawa untuk mata uang kuno yang sebagaian besar bergambar tulisan (cina, jepang , vietnam) bahkan ada beberapa jenis yang bergambar, wayang , naga, dll.  dan pada bagian tengahnya bolong bulat atau bolong persegi.

Mula mula gobog digunakan sebagai alat tukar yang sah.. namun setelah berakhirnya masa kekaisaran emperor hsuan tsung ad 1821 - 1850, koin gobog ini beralih fungsi menjadi alar perlegkapan ritual budaya di berbagai wilayah nusantara, termasuk di kerajaan talaga.
smentara di bali, kion jenis ini disebut "pis blong" atau "pis kepeng"


Data:
Benda ini di foto pada : 14 April 2017
Fotografer : H Asep Deni H.A
Lokasi Pemotretan : Bhumi Ageung Komplek Museum Talagamanggung
No Inv :-
Koleksi : Museum Talagamanggung
Origin :Talaga  -  Indonesia

Rujukan :
Team Peneliti Sejarah Budaya Talaga
Kel Besar Yayasan Talagamanggung


Informasi tentang Sejarah & Budaya Talaga - Majalengka
Klik di :
Penulis : Asep AsDHA Singhawinata



“BENDA PENINGGALAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN , BUKAN WARISAN DARI NENEK MOYANG KITA, TAPI MERUPAKAN TITIPAN DARI ANAK CUCU UNTUK KITA JAGA KELESTARIANNYA, SATU SAAT MERAKA AKAN MENANYAKAN HAK MEREKA UNTUK IKUT MELESTARIKAN DAN MEMPELAJARI PERADABAN SEJARAH BUDAYA LUHUR DARI  NENEK MOYANGNYA”







TONGKAT ROTAN "UJUNGAN"

KET : GAMBAR ATAS , TONGKAT UJUNGAN PENINGGALAN  KERAJAAN TALAGA ERA RAJA SUNAN CIBURUY
GAMBAR BAWAH : ILUSTRASI SENI SAMPYONG DAN UJUNGAN DI JAWABARAT




Jenis : ALAT KESENIAN

Nama : TONGKAT "UJUNGAN" SUNAN CIBURUY

Era : abad ke  - 

Bahan Material : ROTAN 7 RUAS

Dimensi :

PANJANG Total : 85 CM 

Diameter : -


Deskripsi : 


Ujungan adalah Seni Beladiri yang mengkhususkan pada penggunaan stick rotan / tongkat howe atau stick bambu /tongkat awi atau iteuk. Panjang tongkat yg digunakan bervariasi tergantung aliran, mulai dari 50 cm, 60 cm, 70 cm, 80 cm dan 90 cm.
Ujungan adalah salah satu seni beladiri yg ada di Tatar Sunda. Konon sudah ada sejak jaman Aki Tirem dari kerajaan Salakanagara abad 1 M.
Ujungan tersebar di seluruh “bekas” daerah kerajaan Sunda, termasuk daerah yg disebut sebagai Nusa Kalapa. Nusa Kalapa terbentang antara Tangerang, Jakarta/ Betawi, Bekasi, sampai ke perbatasan Karawang.
Ketika terjadi penyerbuan Fatahillah ke Sunda Kalapa, penduduk setempat bertahan dari erangan tersebut di bawah pimpinan tokoh setempat yg dikenal sebagai jago Ujungan yaitu Wak Item.

Varian Ujungan
Ada ratusan aliran/ style Ujungan. Secara Umum Ujungan bisa dibagi menjadi dua style berdasarkan geografis yaitu : gaya pesisir dan gaya pedalaman.
Gaya Pesisir berkembang di daerah pesisir sejak Banten, Betawi, Bekasi, sampai ke Karawang. Gaya pedalaman berkembang di pedalaman Tatar Sunda seperti di daerah Priyangan Timur (Bandung, Garut, Tasikmalaya, Kawali, Talaga,  Majalengka, dll).
Sementara di Kabupaten Majalengka kesenian ini dikenal dengan nama "Seni Sampyong"



(SUMBER DESKRIPSI : https://www.kaskus.co.id/thread/000000000000000011028000/seni-beladiri-ujungan-macan-ngawahan-ti-trah-panjalu--sundanese-art-of-stickfighting/)



Data:
Benda ini di foto pada : 14 April 2017
Fotografer : H Asep Deni H.A
Lokasi Pemotretan : Bhumi Ageung Komplek Museum Talagamanggung
No Inv :-
Koleksi : Museum Talagamanggung
Origin :Talaga  -  Indonesia

Rujukan :
Team Peneliti Sejarah Budaya Talaga
Kel Besar Yayasan Talagamanggung

Informasi tentang Sejarah & Budaya Talaga - Majalengka
Klik di :
Penulis : Asep AsDHA Singhawinata




“BENDA PENINGGALAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN , BUKAN WARISAN DARI NENEK MOYANG KITA, TAPI MERUPAKAN TITIPAN DARI ANAK CUCU UNTUK KITA JAGA KELESTARIANNYA, SATU SAAT MERAKA AKAN MENANYAKAN HAK MEREKA UNTUK IKUT MELESTARIKAN DAN MEMPELAJARI PERADABAN SEJARAH BUDAYA LUHUR DARI  NENEK MOYANGNYA”




GOONG RENTENG



KETERANGAN GAMBAR :
1. KENONG BERJAJAR 8
2. RITUAL MEMBERSIHKAN GOONG PADA ACARA NYIRAMKEUN BENDA PUSAKA TALAGA
3. SISA KAKI PENYANGGA GOONG PADA GOONG RENTENG TALAGA
4. RANGKAIAN GOONG RENTENG TALAGA




Jenis : ALAT MUSIK TRADISIONAL

Nama : GOONG RENTENG

Era : abad ke  -

Bahan Material : PERUNGGU, KAYU 

Dimensi :
Tinggi Total : 

GOONG UTAMA = 5 BUAH
KENONG 1 = 8 BUAH
KENONG 2 = 6 BUAH

Diameter : -



Ilustrasi perangkat kesenian tradisional Goong Renteng
fhoto : search  google



Deskripsi : 
Goong Renteng merupakan salah satu jenis gamelan khas masyarakat Sunda yang sudah cukup tua. Paling tidak, goong renteng sudah dikenal sejak abad ke-16, dan tersebar di berbagai wilayah Jawa Barat.
Menurut Jakob Kunst (1934:386), goong renteng dapat ditemukan salah satunya  DI Talaga (Majalengka),

Istilah "goong renteng" merupakan perpaduan dari kata "goong" dan "renteng". Kata ‘goong’ merupakan istilah kuno Sunda yang berarti gamelan, sedangkan kata ‘renteng’ berkaitan dengan penempatan pencon-pencon kolenang (bonang) yang diletakkan secara berderet/berjejer, atau ngarenteng dalam bahasa Sunda. Jadi, secara harfiah goong renteng adalah goong (pencon) yang diletakkan/disusun secara berderet (ngarenteng).
Goong renteng memiliki dua macam laras; ada yang berlaras salendro dan ada yang berlaras pelog. Peralatannya terdiri dari kongkoang, cempres, paneteg, dan goong. Kongkoang (alat musik berpencon), cempres (alat musik bilah), dan goong diklasifikasikan sebagai idiofon; sementara paneteg (semacam kendang) diklasifikasikan sebagai membranofon. Ditinjau dari cara memainkannya, kongkoang, cempres, dan goong diklasifikasikan sebagai alat pukul; sedangkan paneteg sebagai alat tepuk. Dalam ensambel, kongkoang dan cempres berfungsi sebagai pembawa melodi, kendang sebagai pembawa irama, dan goong sebagai penutup lagu atau siklus lagu.
Repertoar pada goong renteng pada umumnya tidak bertambah. Lagu-lagu pada Goong Renteng  Talagamanggung di Majalengka (bahkan tidak pernah di tabuh lagi), lagu-lagunya masih tetap itu-itu juga. lagu lagu yang biasa di iringi oleh goong renteng talaga ada 9 lagu, beberapa diantaranya adalah :
1. sari asih
2. raja mulang
3. engko
4. kembang gadung

Secara fisik, goong renteng mempunyai kemiripan dengan gamelan degung, tetapi dalam hal usia, goong renteng dianggap lebih tua keberadaannya daripada degung, sehingga ada yang menduga bahwa gamelan degung merupakan pengembangan dari goong renteng. Mungkin karena ketuaannya, pada umumnya goong renteng sekarang dianggap sebagai gamelan keramat, sehingga pemeliharaannya diperlakukan khusus secara adat (ritual; kepercayaan). Kelengkapan waditra gamelan renteng tidak sama di setiap tempat, demikian pula lagu-lagunya.
(sumber :https://id.wikipedia.org )

Ilustrasi 2 : para nayaga ketika memainkan gamelan goong renteng
fhoto dokumen Yayasan Kebudayaan Jaya Loka







Data:
Benda ini di foto pada : 14 April 2017
Fotografer : H Asep Deni H.A
Lokasi Pemotretan : Bhumi Ageung komplek Museum Talagamanggung
No Inv :-
Koleksi : Museum Talagamanggung
Origin :Talaga  -  Indonesia

Rujukan :
Team Peneliti Sejarah Budaya Talaga
Kel Besar Yayasan Talagamanggung

Informasi tentang Sejarah & Budaya Talaga - Majalengka
Klik di :
Penulis : Asep AsDHA Singhawinata




“BENDA PENINGGALAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN , BUKAN WARISAN DARI NENEK MOYANG KITA, TAPI MERUPAKAN TITIPAN DARI ANAK CUCU UNTUK KITA JAGA KELESTARIANNYA, SATU SAAT MERAKA AKAN MENANYAKAN HAK MEREKA UNTUK IKUT MELESTARIKAN DAN MEMPELAJARI PERADABAN SEJARAH BUDAYA LUHUR DARI  NENEK MOYANGNYA”







Rabu, 15 Maret 2017

GUCI LOGAM UKIRAN NAGA







Jenis : GUCI LOGAM

Nama : GUCI LOGAM UKIRAN NAGA

Era : abad ke  -

Bahan Material : KUNINGAN

Dimensi :
Tinggi Total : 180 mm

Diameter : -


Deskripsi : 
Guci  ini merupakan alat pelengkap ritual keagamaan yang menjadi kultur budaya Talaga mulai  era Batara Gunung Bitung hingga Pertengahan era Nyi Ratu Simbarkancana. Sebelum masuknya Agama Islam Ke  Talaga. guci ini berfungsi sebagai tempat penyimpanan minyak wangi pelengkap kebutuhan ritual.

Pada bagian tengah guci ini di tahtakan relief  berbentuk naga khas China dan pada bagian bawahnya terdapat plakat bertuisan huruf China.

Berdasarkan motif artistiknya yang  bergaya cina, bisa disimpulkan bahwa guci ini berada di Talaga sebagai  cendra mata dari Raja, Biksu atau Para Tamu Negara Tibet (Tiongkok)  yang berkunjung ke Negri Talaga Untuk mempelajari ajaran “dang Upaka Sarwatiwada” satu ajaran Ke-Budha-an yang di sebarkan oleh Batara Gunung Bitung, Raja pendiri Talaga.

Data:
Benda ini di foto pada : 28 April 2015
Fotografer : H Asep Deni H.A
Lokasi Pemotretan : Bhumi Ageung komplek Museum Talagamanggung
No Inv :-
Koleksi : Museum Talagamanggung
Origin :Talaga  -  Indonesia

Rujukan :
Team Peneliti Sejarah Budaya Talaga


Informasi tentang Sejarah & Budaya Talaga - Majalengka
Klik di :
Penulis : Asep AsDHA Singhawinata



“BENDA PENINGGALAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN , BUKAN WARISAN DARI NENEK MOYANG KITA, TAPI MERUPAKAN TITIPAN DARI ANAK CUCU UNTUK KITA JAGA KELESTARIANNYA, SATU SAAT MERAKA AKAN MENANYAKAN HAK MEREKA UNTUK IKUT MELESTARIKAN DAN MEMPELAJARI PERADABAN SEJARAH BUDAYA LUHUR DARI  NENEK MOYANGNYA”

Senin, 04 Mei 2015

Cawan Zodiak "Prasen" / Zodiak Beker




Jenis : Cawan (Wadah Air Suci)
Nama : Cawan Zodiak Talaga
Era : abad ke -
Bahan Material : Perunggu

Dimensi :
Tinggi Total : 111 mm
Diameter Atas : 144 mm
Diameter Bawah : 133 mm




Deskripsi :
Cawan / Prasen   ini merupakan alat pelengkap ritual keagamaan yang menjadi kultur budaya Talaga mulai era Batara Gunung Bitung hingga Pertengahan era Nyi Ratu Simbarkancana. Sebelum masuknya Agama Islam Ke Talaga.


Pada bagian badan Cawan ini di tahtakan relief berbentuk zodiak 12 rasi bintang astronomi
Dimana pada tahun awal abad ke 19, Gubernur Jendral T.S Raffles pernah mengirimkan Faximile ke Tropenmuseum , berupa sebuah naskah kuno dari Talaga yang diberi judul:


“Fac Simile des Signes du Zodiac tire d’un ancien Manuscrit apt in Tumung’gung de Telaga a Cheribon.”
(Lambang-lambang zodiak yang terdapat dalam naskah kuno dari Tumung ‘gung Talaga [Katumenggungan Talaga–Pen.], Cirebon).




Nama-nama Zodiac tersebut, menurut Raffles sebagai berikut.

The signs of the Zodiac as represented in the ancient MS (Midlle-centuries Sundanese-?–Pen.) at Telaga in Cheribon compared with the Indian are as follows the figures being very correctly drawn and names with the explanation annexed to each

[Lambang-lambang perbintangan atau zodiak yang dilukiskan dengan bahasa Sunda Pertengahan dari naskah di Talaga Cirebon itu jika dibandingkan dengan yang ada di India sebagai berikut, dst.]. Tulisan sudah diedit penulis–dengan melacak pula zodiac Yunani dari Wikipedia–menjadi tabel sebagai berikut.


ISTILAH TALAGA / ISTILAH YUNANI / ARTI(LAMBANG)
1. MISA / ARIES/BIRI-BIRI
2. M’RISA / TAURUS / BANTENG
3. M’RI KOGO (kupu_kupu) / GEMINI / KEMBAR
4. CALICATA / CANCER / KEPITING
5. SINGHA / LEO / SINGA
6. CANYA / VIRGO / GADIS KANIA
7. TULA / LIBRA / NERACA
8. PRIYATA / CSORPION / KALAJENGKING
9. WANU / SAGITARIUS / JEMPARING
10. MACARA / CAPRICORNUS / KAMBING LAUT
11. CUBA / AQUARIUS / TEMPAYAN
12. MENA / PISCES / IKAN MINA



Data:
Benda ini di foto pada : 28 April 2015
Fotografer : H Asep Deni H.A
Lokasi Pemotretan : Museum Talagamanggung
No Inv : MTM/XV/01/003
Koleksi : Museum Talagamanggung
Origin :Talaga - Indonesia


Rujukan :
Team Peneliti Sejarah Budaya Talaga
Artikel zodiac : www.tatangmanguny.wordpress.com






“BENDA PENINGGALAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN , BUKAN WARISAN DARI NENEK MOYANG KITA, TAPI MERUPAKAN TITIPAN DARI ANAK CUCU UNTUK KITA JAGA KELESTARIANNYA, SATU SAAT MERAKA AKAN MENANYAKAN HAK MEREKA UNTUK IKUT MELESTARIKAN DAN MEMPELAJARI PERADABAN SEJARAH BUDAYA LUHUR DARI NENEK MOYANGNYA”



Informasi tentang Sejarah & Budaya Talaga - Majalengka
Klik di :
https://museumtalagamanggung.blogspot.com/
Penulis : Asep AsDHA Singhawinata





PANIMBAL / TEKO AIR SUCI KUNO “TIRTA NAGA”




Jenis : Teko Air

Nama : Panimbal Tirta Naga

Era : abad ke  -

Bahan Material : Tembaga Bertahta Perunggu

Dimensi :
Tinggi Total : 353 mm
Diameter : -


Deskripsi : 
Teko  ini merupakan alat pelengkap ritual keagamaan yang menjadi kultur budaya Talaga mulai  era Batara Gunung Bitung hingga Pertengahan era Nyi Ratu Simbarkancana. Sebelum masuknya Agama Islam Ke  Talaga.
Pada bagian tengah teko ini di tahtakan relief perunggu berbentuk buda setengah badan yang diapit oleh dua naga yang saling berhadapan, masing masing tertahta di dua sisi teko.
Berdasarkan motif artistiknya yang  bergaya Tibet, bisa disimpulkan bahwa teko ini berada di talaga sebagai  cendra mata dari Raja, Biksu atau Para Tamu Negara Tibet (Tiongkok)  yang berkunjung ke Negri Talaga Untuk mempelajari ajaran “dang Upaka Sarwatiwada” satu ajaran Ke Hinduan yang di sebarkan oleh Batara Gunung Bitung, Raja pendiri Talaga.

Data:
Benda ini di foto pada : 28 April 2015
Fotografer : H Asep Deni H.A
Lokasi Pemotretan : Museum Talagamanggung
No Inv : MTM/XV/01/003
Koleksi : Museum Talagamanggung
Origin :Talaga  -  Indonesia

Rujukan :
Team Peneliti Sejarah Budaya Talaga



“BENDA PENINGGALAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN , BUKAN WARISAN DARI NENEK MOYANG KITA, TAPI MERUPAKAN TITIPAN DARI ANAK CUCU UNTUK KITA JAGA KELESTARIANNYA, SATU SAAT MERAKA AKAN MENANYAKAN HAK MEREKA UNTUK IKUT MELESTARIKAN DAN MEMPELAJARI PERADABAN SEJARAH BUDAYA LUHUR DARI  NENEK MOYANGNYA”

Informasi tentang Sejarah & Budaya Talaga - Majalengka
Klik di :
Penulis : Asep AsDHA Singhawinata

Minggu, 03 Mei 2015

LONCENG / GENTA KUNO BERGAYA TIBET “SINGHA TALAGA”




Jenis : Lonceng / Genta

Nama : Genta Singha Talaga

Era : abad ke  -

Bahan Material : Perunggu

Dimensi :
Tinggi Total : 277 mm
Diameter : 125 mm



Deskripsi :
Genta ini merupakan alat pelengkap ritual keagamaan yang menjadi kultur budaya Talaga mulai  era Batara Gunung Bitung hingga Pertengahan era Nyi Ratu Simbarkancana. Sebelum masuknya Agama Islam Ke  Talaga.
Berdasarkan motif artistiknya yang  bergaya Tibet, bisa disimpulkan bahwa genta ini berada di talaga sebagai  cendra mata dari Raja, Biksu atau Para Tamu Negara Tibet (Tiongkok)  yang berkunjung ke Negri Talaga Untuk mempelajari ajaran “dang Upaka Sarwatiwada” satu ajaran Ke Hinduan yang di sebarkan oleh Batara Gunung Bitung, Raja pendiri Talaga.
Genta ini pernah diphoto oleh , Isidore Van Kinsbergen di tahun 1856 dan hinggi kini fotonya masih tersimpan di Tropenmuseum Belanda.

Data:
Benda ini di foto pada : 28 April 2015
Fotografer : H Asep Deni H.A
Lokasi Pemotretan : Museum Talagamanggung
No Inv : MTM/XV/01/002
Koleksi : Museum Talagamanggung
Origin :Talaga  -  Indonesia

Rujukan :
Team Peneliti Sejarah Budaya Talaga


“BENDA PENINGGALAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN , BUKAN WARISAN DARI NENEK MOYANG KITA, TAPI MERUPAKAN TITIPAN DARI ANAK CUCU UNTUK KITA JAGA KELESTARIANNYA, SATU SAAT MERAKA AKAN MENANYAKAN HAK MEREKA UNTUK IKUT MELESTARIKAN DAN MEMPELAJARI PERADABAN SEJARAH BUDAYA LUHUR DARI  NENEK MOYANGNYA

Informasi tentang Sejarah & Budaya Talaga - Majalengka
Klik di :
Penulis : Asep AsDHA Singhawinata

LONCENG / GENTA KUNO BERGAYA TIBET “TERATAI BUDHA”





Jenis : Lonceng / Genta

Nama : Genta Teratai Buddha

Era : abad ke  -

Bahan Material : Perunggu

Dimensi :
Tinggi Total : 152 mm
Diameter : 90 mm



Deskripsi :
Genta ini merupakan alat pelengkap ritual keagamaan yang menjadi kultur budaya Talaga mulai  era Batara Gunung Bitung hingga Pertengahan era Nyi Ratu Simbarkancana. Sebelum masuknya Agama Islam Ke  Talaga.
Berdasarkan motif artistiknya yang  bergaya Tibet, bisa disimpulkan bahwa genta ini berada di talaga sebagai  cendra mata dari Raja, Biksu atau Para Tamu Negara Tibet (Tiongkok)  yang berkunjung ke Negri Talaga Untuk mempelajari ajaran “dang Upaka Sarwatiwada” satu ajaran Ke Hinduan yang di sebarkan oleh Batara Gunung Bitung, Raja pendiri Talaga.
Genta ini pernah diphoto oleh , Isidore Van Kinsbergen di tahun 1856 dan hinggi kini fotonya masih tersimpan di Tropenmuseum Belanda.

Data: 
Benda ini di foto pada : 28 April 2015
Fotografer : H Asep Deni H.A
Lokasi Pemotretan : Museum Talagamanggung
No Inv : MTM/XV/01/001
Koleksi : Museum Talagamanggung
Origin :Talaga  -  Indonesia

Rujukan :
Team Peneliti Sejarah Budaya Talaga


“BENDA PENINGGALAN SEJARAH DAN KEBUDAYAAN , BUKAN WARISAN DARI NENEK MOYANG KITA, TAPI MERUPAKAN TITIPAN DARI ANAK CUCU UNTUK KITA JAGA KELESTARIANNYA, SATU SAAT MERAKA AKAN MENANYAKAN HAK MEREKA UNTUK IKUT MELESTARIKAN DAN MEMPELAJARI PERADABAN SEJARAH BUDAYA LUHUR DARI  NENEK MOYANGNYA”


Informasi tentang Sejarah & Budaya Talaga - Majalengka
Klik di :
Penulis : Asep AsDHA Singhawinata