Tampilkan postingan dengan label RAJA/RATU TALAGA. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label RAJA/RATU TALAGA. Tampilkan semua postingan

Kamis, 23 April 2015

RAJA TALAGA KE X


Rd ADIPATI SUWARGA
(Masa transisi Kerajaan Talaga)



MUSEUM TALAGAMANGGUNG


NAMA : Rd Adipati Suwarga

GELAR : Sunan Suwarga

MASA PEMERINTAHAN : 1675 - 1715 Masehi

NAMA ISTRI : 

1. Ratu Losari Cirebon

2. Nyimas Jitra (Nunuk)

NAMA AYAH : Rd Arya Adipati Surawijaya

NAMA IBU : Ratu Kartaningrat

ANAK :

1. Arya Saca Dilaga (dari Ratu Losari Cirebon)
2. Adipati Wiranata (dari Nyimas Jitra Nunuk)



Di Arcakan Sebagai                :Tidak di arcakan
Sumber Rujukan                     : Wawacan Talaga, Wikipedia, Wawacan Nusantara, tatangmanguny.wordpress.com,





CATATAN :

a. Talaga Menjadi Dua Kerajaan

Sepeninggal Rd Adipati Suwarga, Adipati Wiranata mau dinobatkan sebagai Narpati Talaga tahun 1715 M. muncul protes dari putra Pangeran Kusumayuda yang bernama Pangeran Natadilaga. Natadilaga merasa berhak untuk menjadi narpati Talaga. Melihat kondisi demikian, para sesepuh Talaga segera mengadakan musyawarah dengan keputusan bahwa Talaga harus dibagi dua, yakni:

1. Kesultanan Talagakidul, dipimpin oleh Adipati Wiranata;
2. Kesultanan Talagakaler, dipimpin oleh Pangeran Natadilaga.

Ketika itu pula disepakati bahwa Talaga dibagi menjadi empat sudut mata angin kabupatian yang meliputi:
Kebupatian Talagakidul; dipimpin oleh Pangeran Adipati Sacanata, putra ke-3 Pangeran Adipati Wiranata;
Kebupatian Talagakaler; dipimpin oleh Pangeran Arya Sacadilaga, cucu Pangeran Arya Natadilaga;
Kabupatian Talagawetan; dipimpin oleh Pangeran Kartanagara, putra ke-4 Pangeran Adipati Wiranata;
Kabupatian Talagakulon; dipimpin oleh Dalem Surya Sepuh, cucu Pangeran Adipati Jayawiriya.

Keempat bupati dari empat kabupatian Talaga itu mendapat julukan Pangeran Papat, karena dalam satu masa bersama-sama mengurus Talaga.



b. Penggabungan Kabupatian Talaga dengan Kabupatian Sindangkasih



Pada awal bada ke-19, pemerintah kolonial Hindia Belanda, tepatnya pada 1806, menjadikan empat Kabupatian Talaga menjadi satu kabupatian (kabupaten) dengan bupatinya Pangeran Arya Sacanata II. Tiga tahun kemudian, yakni 1818 Kabupatian Talaga digabung dengan Kabupatian Sindangkasih menjadi Kabupaten Majalengka yang dikenal sekarang.

Sesuai dengan rencana Hindia Belanda, pengggabungan dua kabupaten itu mengharuskan bupati pindah dari Talaga ke Majalengka. Pangeran Sacanata II sebagai Bupati Majalengka ketika itu menolak untuk meninggalkan Talaga dan akhirnya dipensiunkan oleh Belanda dengan hak jasa pensiun sebidang tanah sawah selebar lima puluh bahu. Dengan demikian Pangeran Sacanata II (Eyang Regasari) mendapat julukan Bopati Panungtung Talaga.



c. Pengubahan Status Bupati Talaga Menjadi Sesepuh Talaga

Karena sejak pasca penggabungan antara Kabupatian Talaga dan Sindangkasih tidak ada yang memegang kekuasaan secara politik, maka para sesepuh Talaga bermusyawarah untuk menentukan orang yang akan memegang dan mengurus benda-benda pusaka karuhun (leluhur) Talaga. Disepakatilah bahwa yang berhak mengurus benda-benda itu adalah keturunan yang memunyai hubungan langsung dari Pangeran Sacanata II dari pihak anak laki-laki, jika anak laki-laki tidak ada maka pihak perempuan pun diperbolehkan asal jika memunyai anak laki-laki maka pengurusan benda pusaka harus kembali dipegang pihak laki-laki.

Berikut adalah orang-orang yang mendapat tugas mengurus benda-benda Pusaka Karuhun Talaga, yang selanjutnya mereka disebut para sesepuh Talaga:

1. Pangeran Sumanagara (1820-1840), putra sulung Pangeran Arya Sacanata II;

2. Nyi Raden Anggrek (1840-1865), putri Pangeran Sumanagara;

3. Raden Natakusumah (1865-1895), putra Nyi Raden Anggrek;

4. Raden Natadiputra (1895-1925), putra Raden Natakusumah;

5. Nyi Raden Masri’ah (1925-1948), putri Raden Natadiputra;

6. Raden Acap Kartadilaga (1948-1970), suami Nyi Raden Masri’ah;

7. Nyi Raden Madinah (1970-1993), putri Daden Acap Kartadilaga;

8. Nyi Raden Padnalarag (1993-2014), putri Nyi Raden Madinah

9. Raden Apun Tjahya Hendraningrat (2014-sekarang) putra Nyi Raden Padnalarang

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------

Sumber:
Wawancara langsung dengan Rd Apun Tjahya Hendraningrat, Ketua Yayasan Talagamanggung
http://altekcomputermbojo.blogspot.com/2008/12/sejarah-kerajaan-talaga-pasca-masuknya.html
http://khairulummah.multiply.com/journal/item/1/Sejarah_Ringkas_Talaga_Manggung
http://kiwaras.blogspot.com/2008/01/sejerah-talaga.html

-----------------------------------------------------------------------------------------------------------


Informasi tentang Sejarah & Budaya Talaga - Majalengka
Klik di :
Penulis : Asep AsDHA Singhawinata

Rabu, 22 April 2015

RAJA TALAGA KE IX


Rd ARYA ADIPATI  SURAWIJAYA
(Perkembangan Perekonomian di Talaga)


Mesjid Pusaka di Blok Astana Desa Talagawetan, merupakan Mesjid Pusaka
Peninggalan Kerajaan Talaga era Sunan Ciburuy


NAMA : Rd Arya Adipati Surawijaya

GELAR : Sunan Ciburuy

MASA PEMERINTAHAN : 1635 - 1675 Masehi

NAMA ISTRI  : Ratu Kartaningrat (dari Kasepuhan Cirebon)

NAMA  AYAH : Arya Kikis

NAMA IBU : Tidak diketahui

ANAK                                      :
1.       Pangeran Adipati Suwarga
2.       Pangeran Jayawirya
3.       Pangeran Kusumayudha
4.       Sunan Ciparanje (Subang)
5.       Anonym
6.       Dewi Tilanagara

Di Arcakan Sebagai            :Tidak di arcakan

Sumber Rujukan                 : Wawacan Talaga, Wikipedia, Wawacan Nusantara, tatangmanguny.wordpress.com,


CATATAN :

Raden Arya Adipati Surawijaya dalam melaksanakan tugas pemerintahannya didampingi Sang Patih, Aria Paningsingan,(?) ataukah Arya Saringsingan (?) seorang senapati yang gagah dan berani.

Pada era Raden Arya Surawijaya, tatanan perekonomian di kerajaan talaga sangatlah berkembang dengan pesat, , hingga talaga menjadi jalan perdagangan Negara Negara di pulau Jawa maupun dari Eropa dan tanah China, terbukti dengan adanya peninggalan peninggalan kramik China, mata uang logam dan kain batik jawaan yang masih tersimpan di muaseum selain itu di talaga juga terdapat kuburan kuburan pedagang cina yang bermukim di talaga. 

Di bidang pertanian juga tak kalah pesatnya, terutama tanaman padi dan palawija, hingga kini beberapa bidang pesawahan kuno masih terpelihara di daerah Cikiray Talaga dan Komplek Sawahlega Cikijing.

--------------------------------------------------------------------------------------------------


Informasi tentang Sejarah & Budaya Talaga - Majalengka
Klik di :
Penulis : Asep AsDHA Singhawinata

RAJA TALAGA KE VIII

Rd APUN SURAWIJAYA
(Kekerabatan Talaga dengan Cirebon)


GOERIANG BOENTOETAN
ICON/LAMBANG NEGARA TALAGA


NAMA : Rd Apun Surawijaya

GELAR : Sunan Kidul

MASA PEMERINTAHAN : 1590 - 1635 Masehi

NAMA ISTRI  : tidak diketahui

NAMA  AYAH : Arya Kikis

NAMA IBU : Tidak diketahui


ANAK                                      :
1.       Dalem Salawangi
2.       Sunan Cibalagung (cianjur)
3.       Pangeran Surawijaya (Sunan Ciburuy)
4.       Dalem Tahu (Ciparanje)

Di Arcakan Sebagai            :Tidak di arcakan

Sumber Rujukan                 : Wawacan Talaga, Wikipedia, Wawacan Nusantara, tatangmanguny.wordpress.com,



CATATAN :

Ketika masa pemerintahan Raden Apun Surawijaya, Sang Narpati Talaga tetap setia dan patuh pada “Kesepakatan Ciburang” yang telah dibuat oleh para pembesar Talaga maupun Cirebon. Agama Islam dan perasaan satu nenek moyang merekatkan tali persaudaraan dan kekeluargaan kedua kerajaan tersebut.

Sebagai seorang penguasa, Raden Apun Surawijaya berhasil meningkatkan kesejahteraan para petani. Pada masanya berbagai bendungan irigasi dibangun.



------------------------------------------------------------------------

Informasi tentang Sejarah & Budaya Talaga - Majalengka
Klik di :
Penulis : Asep AsDHA Singhawinata

Selasa, 21 April 2015

RAJA TALAGA KE VII

ARYA KIKIS
(Perlawanan Terhadap Demak)
 
Ilustrasi Perang Zaman Kerajaan

NAMA : Arya Kikis
 
GELAR : Sunan Ciburang II / Sunan Wanaperih
MASA PEMERINTAHAN : 1550 - 1590 Masehi
NAMA ISTRI  : Tidak diketahui
NAMA  AYAH : Rd Ranggamantri (Pucuk Umun)
NAMA IBU : Dewi Sunyalarang (Ratu Parung)
Anak         

  • 1.       Delem Kulanata
  • 2.       Dalem Cageur
  • 3.       Rd Apun Surawijaya
  • 4.       Nyi Ratu Radea
  • 5.       Nyi Ratu Putri
  • 6.       Dalem Wangsagoprana

                    
Komplek Situs Mkam Arya Kikis Kecamatan Banjaran
Kabupaten Majalengka


 

Prasasti Pada Gapura di
Komplek Situs Mkam Arya Kikis Kecamatan Banjaran
Kabupaten Majalengka


Narasi .

Setelah Ratu Sunialarang / Ratu  Parung wafat sementara waktu (pejabat sementara)  Tahta Narpati  di Karatuan Talaga diteruskan oleh  Prabu Haur Koneng III pada tahun 1534, karena kala itu Arya Kikis sebagai Putra Mahkota dirasa belum cukup dewasa untuk memimpin Nergri Talaga. 

Tahun 1540 diangkatlah Arya Kikis menjadi Narpati Talaga dan Prabu Haur Koneng III menjadi narpati di Kuningan yang dilanjutkan menjadi narpati di Galuh Pangauban. 

 

Pada masa kedua pemimpin ini mereka menjalankan roda pemerintahan Talaga yang dipusatkan di “Karaton Ciburang” yang lokasinya sekarang terletak di Desa Maniis Kecamatan Cingambul.

Karena itulah Arya kikis mendapat Wastu / Gelar (Sunan Ciburang II) (1)

keterangan ini dapat menjawab kesimpang siuran catatan sejarah di Subang,  yang menyatakan bahwa Rd. Arya Wangsagoparana Putra dari Arya Kikis dan versi lainnya disbut putra dari Sunan Ciburang. 

Perlu di ketahui bahwa sepanjang perjalanan sejarah Karatuan Talaga ada dua Wastu (gelar) “Sunan Ciburang” di generasi yang berbeda. 

Sunan Ciburang I : Rd. Kamana / Ratu Kamana,  putra dari Ratu Rara Dewi Simbarkantjana dan Rd. Kusumalaya

Sunan Ciburang II  : Arya Kikis Putra Ratu Sunialarang dan Rd. Ranggamantri  

Pada tahun 1541 diselenggarakan perundingan “Multilateral” yang dihadiri oleh para petinggi negara negara se Tatar Sunda diantaranya yang tercatat adalah :

-Dari Galuh Pangauban di wakili oleh Prabu Haur Koneng III
-Dari Cirebon Diwakili oleh Sinuwun Sunan Gunung Jati
-Dari Talaga sekaligus pihak penyelanggara di wakili Oleh Arya Kikis dan Rd Ulun Parancaherang.
Perundingan itu menerbitkan 4 poin kesepakatan “menurut naskah Carukanda Talaga ” diantaranya :

1. Dilarang keras berselisih dan saling serang antara kakuasaan Demak/Cirebon dan kakuasaan Sunda- Galuh. 

2. Pihak Cairebon mencabut kembali “embargo” garam ke sunda galuh.

3. Radja radja Sunda Galuh membayar upeti tahunan ke Sultan Cairebon ku berupa hasil pertanian.

4. Jika dikemudian hari terjadi pertikaian diantara negara peserta perundingan maka dari pihak Cirebon, Galuh dan Talaga berkewajiban untuk mendamaikannya kembali. 

(catatan : naskah sudah diterjemahkan dari Bahasa Sunda pertengahan ke bhs Indonesia)

 

Dikemudian hari, ternyata,  "Nota kesepakatan Ciburang" tidak dapat diterima oleh sebagian besar petinggi Negri dan Tokoh Masyarakat Talaga. Terutama pada "poin ke 3",  Sebab masyarakat Talaga merasa bahwa Talaga merupakan "Negara yang berdaulat". Diawali dangan ikut campur Demak untuk menarik upeti dari Talaga melalui Cirebon, sedangkan di sisi lain kondisi rakyat Talaga begitu memerlukan perhatian pemerintah, akhirnya permintaan Cirebon-Demak untuk menarik upeti dari Talaga diabaikan. Merasa tak dihiraukan, koalisi pasukan Cirebon-Demak tiba-tiba menyerang Talaga. Terjadilah kekiisruhan antara Pasukan Talaga dengan pasukan Cirebon dan Demak dan pertikaianpun tak dapat dihindari. 

Di medan jurit, walau prajurit-prajurit Talaga yang dibantu ketat oleh puragabaya serta pendekar-pendekar dari padepokan-padepokan dan pesantren-pesantren Islam jumlah pasukan dan senjatanya lebih kecil dibandingkan jumlah serta kekuatan Cirebon-Demak, namun pasukan Talaga dengan penuh semangat terus mengadakan perlawanan. Akhirnya semua pasukan Cirebon-Demak dapat diusir ke luar dari wilayah Talaga.

Diceritakan di dalam naskah Carukanda Talaga , bahwa seorang Demang dari Talaga dan 3 orang lurah tamtama Demak terbunuh di dalam tragedi tersebut. 

Kondisi ini membuat prihatin Sinuwun Sunan Gunung jati. Akhirnya di tahun 1545  beliau turun ke talaga untuk mengadakan kembali perundingan damai antara koalisi Cirebon Demak dan Talaga. Dan perundingan ini kembali diadakan di Keraton Ciburang. 

Selama menjabat sebagai Pemimpin Negri Arya Kikis Berhasil menyempurnakan system Ketataprajaan di Negri Talaga

Beliau Mengeluarkan tiga poin Maklumat yg kala zaman itu terkenal dengan sebutan "Ujar Ratu sabda Raja" yg berbunyi : 

(Telah di terjemahkan kedalam bhs Indonesia)

1.      Semua daerah yang termasuk  kedalam wilayah pemerintahan Kerajaan Talaga, kedaleman (setingkat Kabupaten sekarang) di beri kewenangan penuh untuk mengurus wilayah masing masing (otonomi Daerah) termasuk kekuasaan  pasukan utama keamanan negara yang semula ber ada di wilayah banjaran sari (cikijing sekarang).

2.      Para Dalem Agung (Dalem Utama atau setingkat propinsi sekarang,) diantaranya: 

- Dalem Madjaagung (Maja )

Dalem Cageur (Darma – Kabupaten Kuningan sekarang)

Dalem Patrajenar (Majalengka sekarang) 

Dalem Parakan Muncang (Kabupaten Sumedang sekarang)

Dalem Singandaru (Kawali - Kabupaten Ciamis sekarang)

Diberikan kedudukan sebagai penguasa mandiri yg keamanannya di bantu oleh para Kepala  Jurit Wirautama Talaga.

3.      Setiap tanggal 10 sampai dengan  tanggal 17 bulan Syafar, para pemimpin daerah harus mengikuti Sawala Agung  (musyawarah  tahunan) ke Pasanggrahan Agung Talaga dalam rangka memusyawarahkan daerahnya .

Tatanan komando kekuasaan Kerajaan Talaga Pada masa kepemimpinan Arya Kikis :
I.                    Keprabon
Raja
Maha Patih Agung,(setingkat perdana mentri sekarang)
Mantri Utama
Mantri Jero
Puraga Bhaya
Hulu Jurit Wirautama
 
II.                 Kadaleman
Dalem Utama
Dalem
Umbul
Demang 
Pemimpin pemimpin dibawahnya. 
 


-----------------------------------------------------------------------

Sumber Rujukan  : 
- Wawacan Talaga, 
- Naskah Carukanda Talaga , 
- Wikipedia, Wawacan Nusantara, 
- tatangmanguny.wordpress.com, 
- Sumber dari Tradisi Lisan 

 



Informasi tentang Sejarah & Budaya Talaga - Majalengka
Klik di :
Penulis : Asep AsDHA Singhawinata

RAJA (RATU) TALAGA KE VI

RATU PARUNG & RANGGAMANGTRI
(Berkembangnya Agama Islam di Talaga)

Ilustrasi Mesjid Kuno di Jawabarat


NAMA : Dewi Sunyalarang
GELAR : Ratu Parung
MASA PEMERINTAHAN : 1500 - 1550 Masehi
NAMA SUAMI : Rd Ranggamangtri/Pucuk Umun
NAMA AYAH : Sunan Parung
NAMA IBU : Tidak diketahui


ANAK :
1. Prabu Haur Kuning
2. Arya Kikis
3. Dalem Lohmaja Ageng
4. Sunana Umbuluas Santoan Singandaru
5. Dalem Panungtung (Girilawungan)
6. Dalem Panaekan


Di Arcakan Sebagai :Tidak di arcakan

Sumber Rujukan : Wawacan Talaga, Wikipedia, Wawacan Nusantara, tatangmanguny.wordpress.com, Situs makam Keramat Sunana Parung

CATATAN :
Setelah Sunan Parung mangkat, pemerintahan diserahkan kepada satu-satunya putrinya, Ratu Dewi Sunyalarang (1500 M) yang di kemudian hari mendapat julukan Ratu Parung.

Dewi Sunyalarang (Ratu Parung) menikah dengan Raden Ragamantri, putra Prabu Mundingsari Ageung dari Ratu Mayangkaruna. Raden Ragamantri adalah cucu dari Bagawan Garasiang dan juga cucu dari Prabu Siliwangi (Sri Baduga Jaya Dewata atau Pamanah Rasa). Pada masa pemerintahan Dewi Sunyalarang inilah pusat kerajaan dipindahkan ke Parung. Pusat pemerintahan di Walangsuji hanya bertahan selama tujuh tahun tiga bulan. Dewi Sunyalarang memandang bahwa Walangsuji kurang strategis untuk terus dijadikan pusat pemerintahan.

Perkembangan Agama Islam di Talaga
Pada 1529 Ratu Parung dan suaminya, Raden Ragamantri. mengucapkan syahadat. Mereka masuk agama Islam melalui Sunan Gunung Jati yang dibantu para mubalig Cirebon. Sunan Gunung Jati(Syarif Hidayatullah) lalu memberikan gelar Prabu Pucuk Umum Talaga kepada Raden Ragamantri sebagai bentuk penghormatan kepada beliau dan keluarga besar Talaga.

Hasil pernikahan Ratu Parung (Dewi Sunyalarang) dengan Raden Ragamantri, Prabu Pucuk Umum Talaga dikaruniai enam putra,

Ratu Dewi Sunyalarang pada awalnya dimakamkan di tepi Sungai Cilutung. Akan tetapi, demi keamanan dan pengikisan oleh air, makamnya dipindahkan ke makam keluarga Raden Natakusumah di Cikiray desa Talagawetan. oleh Raden Acap Kartadilaga pada 1959 M. Sedangkan Raden Ragamantri dimakamkan di tepi Situ Sangiang. Kuburannya terletak di luar bangunan utama tempat penziarahan, persisnya di bawah pepohonan besar ditandai dengan sebatang pohon rotan. (sumber : wawacan nusantara)

-----------------------------------------------------------------------------------

Informasi tentang Sejarah & Budaya Talaga - Majalengka
Klik di :
Penulis : Asep AsDHA Singhawinata

RAJA TALAGA KE V

SUNAN PARUNG
(Pencetus ke Tataprajaan di Talaga)




Situs Makam Keramat "Sunan Parung"
di Komplek Wana Wisata Situ Sangiang - Talaga


NAMA : Batara Sukawayana
GELAR : Sunan Parung

MASA PEMERINTAHAN : 1450 – 1500 Masehi
NAMA Istri : Tidak diketahui
NAMA AYAH : Rd Kusumalaya (Ajar Kutamangu)
NAMA IBU : Ratu Nyimas Dewi Simbarkancana


ANAK :
1. Nyimas Dewi Sunyalarang

Di Arcakan Sebagai :Tidak di arcakan
Sumber Rujukan : Wawacan Talaga, Wikipedia, Wawacan Nusantara, tatangmanguny.wordpress.com, Situs makam Keramat Sunana Parung

CATATAN :
Masa pemerintahan Sunan Parung tidak lama, hanya beberapa tahun saja. Hal yang penting pada masa pemerintahannya adalah sudah adanya pembagian wilayan ( yang disebut “kadaleman,” masing-masing “kadaleman” dikepalai oleh seorang Dalem. Kadaleman dimaksud antara lain Kadaleman Kulur, Girilawungan, , dan Jerokaso Maja. Sunan Parung mempunyai puteri tunggal bernama Ratu Sunyalarang atau Ratu Parung.


Pada era Raja Sunan Parung, peradaban Islam sudah masuk ke talaga, bahkan beberapa sumber mengatakan, Ratu Nyimas Simbarkancana, pada akhir hayatnya sudah memeluk agama Islam.


-------------------------------------------------------------------------------------



Informasi tentang Sejarah & Budaya Talaga - Majalengka
Klik di :
https://museumtalagamanggung.blogspot.com/
Penulis : Asep AsDHA Singhawinata

RAJA (RATU) TALAGA KE IV

Nyimas Rara Dewi Simbarkancana
(Tokoh Emansipasi Wanita Di Tatar Talaga)



A, Rd Panglurah

Sebelum melanjutkan ke Raja (Ratu Talaga ke IV) alangkah baiknya kita mengenal dulu satu tokoh yang sangat berpengaruh di Talaga yaitu Raden Panglurah


Arca Prunggu
yang menggambarka Rd Panglurah

SUMBER : Wilsen.F.C.1855 "Oudheden in Cheribon" dalam TBG.IV.2


Semenjak tragedi berdarah yang menimpa ayahanda beliau Prabu Talagamanggung, beliau mendatangi adik tercinta Nyimas Dewi Simbarkancana. Kesedihan tak bisa tergambarkan menyelimuti ke dua putra putri raja Talaga ini,

Menurut peraturan kerajaan kala itu, bahwa sepenninggal Raja ,maka takhta Kerajaan harus diteruskan oleh Rd Panglurah sebagai anak tertua sekaligus Putra Mahkota, namun karena beliau adalah sosok Putra Raja yang tidak gila harta dan jabatan maka beliau berniat meninggalkan kesenangan dunia dan lebih memilih untuk mengolah jiwa dan spiritual keagamaan.. maka dengan sangat senang hati , tampuk kepemimpinan Kerajaan Talaga di berikan pada adik tercinta yaitu Nyimas Dewi Simbarkancana yang beliau anggap mempunyai jiwa kepemimpinan yang sangat baik dan dipercaya bisa melanjutkan tatanan pemerintahan di Talaga.


B. Nyimas Rara Dewi Simbarkancana

Arca Perunggu
yang menggambarkan Nyimas Dewi Simbarkancana

SUMBER : Wilsen.F.C.1855 "Oudheden in Cheribon" dalam TBG.IV.2 (kiri)
Bronzeen Boeddhabeeld.1863-1864
Koleksi foto Tropenmuseum.

NAMA : Simbar Kancana
GELAR : Nyimas Rara Dewi Simbarkancana
MASA PEMERINTAHAN : Abad Ke XV
NAMA Suami :
Pertama : Palembang Gunung
Kedua : Rd Kusumalaya (Ajar Kutamangu)
NAMA AYAH : Prabu talagamanggung
NAMA IBU : --

ANAK :
Dari Palembang gunung (tidak memiliki keturunan)
Dari Ajar Kutamangu
1. Sunan Parung
2. Sunan Cihaur
3. Sunan Bungbulang
4. Sunan Cengal
5. Sunan Jerokaso
6. Sunan Kuntul Putih
7. Sunan Ciburang
8. Sunan Tegal Cau (Corenda)

Di Arcakan Sebagai :arca budha yang bersikap Abhaya mudra (tangan kiri lurus ke samping badan, dan telapak tangan kanan menghadap ke depan), bergaya siam , dengan ciri ciri, mengenakan mahkota dikepalanya, berwajah syaumnya (tenang)

Sumber Rujukan : Wawacan Talaga, Wikipedia, Wawacan Nusantara, tatangmanguny.wordpress.com

CATATAN :
Setelah Wafatnya Prabu Talagamanggung maka kekosongan kepemimpinan dimanfaatkan oleh Patih Palembanggunung untuk berkuasa dengan semena mena, sehingga kondisi Kerajaan Talaga mengalami keterpurukan dari segi kamanan, ekonomi sosial dan budaya

Berita terbunuhnya Prabu Talagamanggung menjadi berita duka bagi rakyat Talaga dan beritanya pun sampai ke negara negara tetangga termasuk ke Negri Galuh.

Karena Negri Galuh ada ikatan saudara dengan pendiri Talaga dan keturunanya , akhirnya raja Negri Galuh yang dipimpin oleh Rd. Ningrat Kancana yang bergelar Prabhu Dewa Niskala memberikan bantuan dengan mengirim team terlatih untuk mengungkap kasus terbunuhnya Prabu Talagamanggung , yang dipimpin oleh anaknya sendiri Raden Kusumalaya yang merupakan seoang ahli strategi perang, seorang ahli pengobatan dan mempunyai dasar dasar keagamaan yang kuat sehingga beliau mempunyai gelar Ajar Kutamanggu

Mulanya Dewi Simbarkancana, , tidak mengetahui bahwa kematian ayahnya didalangi suaminya . tapi setelah diselidiki, terungkap oleh Ajar Kutamangu dan terbukti bahwa dalang dibalik itu adalah suaminya sendiri yang gila akan kekuasaan . maka Dewi Simbarkancana sangat marah , dendam dan terpukul, karena merasa dikhianati oleh suami sendiri.

Akhirnya, hanya selang Kurang lebih 2 bulan sejak kematian Ayahanda tercinta, Dewi Simbarkancana membalaskan dendamnya, membunuh Palembanggunung dengan menggunakan “Patrem” (Tusuk Konde) nya. Setelah sebelumnya mengalami perkelahian terlebih dulu.

Setelah Palembanggunung meninggal, atas persetujuan dari Rd Panglurah sebagai Putra Mahkota Nyimas Dewi Simbarkancana dinobatkan sebagai Ratu pemimpin Kerajaan Talaga.

Kendati seorang putri, beliau memiliki sifat-sifat kepemimpinan sang Ayah. Sejak saat itulah emansipasi wanita mulai lahir di tatar Talaga. Dan Raden Dewi Simbarkancana pun menjadi Tokoh Wanita Pertama yang menjadi Ratu sebagai Pemimpin Pemerintahan Kerajaan di Talaga.

Beliau pun menikah kembali dengan Raden Kusumalaya atau Raden Palinggih yang bergelar Ajar Kutamangu dari Galuh, Putra kandung Prabu Ningratkancana dan Ratu Nay Ratna Mayangsari .
Beliau berhasil mengungkap dan menumpas habis komplotan bawahtanah Palembanggunung. Dengan begitu, keamanan dan ketertiban, perekonomian, sosial dan budaya negara kembali menjadi stabil dan berkembang pesat.


---------------------------------------------------------------------------------------





Informasi tentang Sejarah & Budaya Talaga - Majalengka
Klik di :
https://museumtalagamanggung.blogspot.com/
Penulis : Asep AsDHA Singhawinata

RAJA TALAGA KE III

PRABU TALAGAMNGGUNG
(Tragedi berdarah di Talaga)



Arca Prunggu berlapis Emas
Menggambarkan Prabu Talagamanggung (Darma Suci II)

Sumber : Wilsen,F.C.1855 "Oudheden in Cheribon" dalam TBG.PI.Vb.




NAMA : Rd. Ciptapermana
GELAR : PRABU DARMA SUCI II / PRABU AGUNG TALAGAMANGGUNG / SANG KATONG ABIRAWA WATUGUNUNG

MASA PEMERINTAHAN : Abad Ke XIV
NAMA ISTRI :--
NAMA AYAH : DARMA SUCI I
NAMA IBU : Tidak Diketahui

ANAK :
1. Rd. Purwayana Kantjanadewa / Rd Panglurah
2. Nyimas Dewi Simbarkancana

Di Arcakan Sebagai : Arca budha yang bersikap dhayana mudra (kedua tangan terletak dipangkuan dengan kedua telapaknya meghadap ke atas), bergaya siam , dengan ciri ciri, mengenakan mahkota dikepalanya, berwajah syaumnya (tenang)

Sumber Rujukan : Wawacan Talaga, Wikipedia, Wawacan Nusantara,

CATATAN :
Ketika memerintah, Prabu Darmasuci II (Prabu Talagamanggung) bertempat di Talaga. Keratonnya sendir terletak di Sangiang. Pada masa pemerintahannya, Talaga mengalami kemajuan yang pesat. Secara sosial-ekonomi masyarakatnya semakian mapan. Oleh karena itu, banyak orang dari negara dan daerah lain kemudian menetap di Talaga.

Prabu Talagamanggung mepunyai dua orang anak yaitu :


1. Raden Panglurah
Sejak kecil Raden Pangkurah rajin melatih diri di Gunung Bitung. Sebelah selatan Talaga, Desa Wangkelang, Kecamatan Cikijing, Majalengka. Ia bertapa di bekas pertapaan uyut beliau, Bathara Ghunung Bitung.
Raden Panglurah adalah seorang sosok putra raja yang meninggalkan kesenangan dunia dan lebih memilih untuk mengolah jiwa dan spiritual.


2. Dewi Simbarkancana
Karna kecantikannya Simbarkancana yang luar biasa, selain paras yang cantik beliau juga sering mempelajari ilmu beladiri dan ilmu ketata negaraan dari ayahnya.
Banyak sekali para pangeran negara tetangga dan para petinggi negri talaga yang menaruh hati padanya.
 
Dan demi menjaga hal hal yang tidak diinginkan, maka Prabhu Talagamanggung memutuskan untuk mengadakan syaembara adu ketangkasan bela diri memanah, dan berburu, bagi para pria yang berharap menjadi suami Dewi Simbarkancana.

Singkat cerita syaembara dimenangkan oleh seorang bangsawan asal cirebon yang bernama Sakyawira yang diberi gelar Palembangghunung.


Catatan: ada 2 versi tentang sakyawira.
1. Ada yang menyatakan bahwa Sakyawira berasal dari Negri Palembang sehingga bergelar Palembangghunung.
2. Ada yang menyatakan bahwa Sakyawira berasal dari Cirebon, dan karna keahliannya dalam mengelola pertanian di Pegunungan wilayah Talaga , maka raja memberi gelar Palembangghunung { pa-lemban-gunung ( ahli mengelola pertanian padi di pegunungan) }


Karna keahlian dalam mengatur strategi kenegaraan dan mahir dalam mengelola pertanian di Kerajaan Talaga, Palembangghunung diangkat sebagai Mahapatih Agung Kerajaan Talaga, setelah resmi menikah dengan Dewi Simbarkancana.
Akan tetapi rupanya posisi jabatan itu tidak membuat puas hati Palembanggunung. Yang bersikeras ingin mendapatkan posisi jabatan puncak di Kerajaan Talaga yaitu menjadi Raja, maka Palembangunung mulai mengatur strategi membuat gerakan rahasiah bersama beberapa prajurit setia Prabu Talagamanggung yang berhasil dia bujuk sehingga berbolot padanya. Diantaranya Citrasinga seorang petinggi Kerajaan dalam hal ini bertindak sebagai mediator yang menyampaikan strategi palembang gunung pada eksekutor . dan Centangbarang, merupakan penjaga gudang senjata di lingkungan keraton kerajaan Talaga yang dalam hal ini bertindak sebagai pelaku pembunuhan (eksekutor) prabu talagamanggung.
Akhirnya strategi Palembanggunung berhasil dilaksanakan dan prabu talagamanggung tebunuh terkena sabetan senjata “cis” semacam tombak kecil atau tombak bergagang pendek yang merupakan “pusaka” Kerajaan Talaga kala itu.
Jenazah Prabu Talagamanggung diurus sesuai ajaran budha Kahiyangan. Abu jenazahnya dilarungkan di Situ Sangiang.
Kekosongan kepemimpinan di Negri Talaga , dimanfaatkan oleh Palembanggunung untuk menggantikan posisi raja di kerajaan talaga.

Suasana berdukapun menyelimuti kerajaan talaga, dan akibat rasa trauma yang mendalam dikalangan keluarga keraton, akhirnya Dewi Simbarkancana tidak mau tinggal di Keraton sagiang dan memindahkan pusat pemerintahan Kerajaan Talaga dari Keraton Sangiang ke Walang Suji (Desa Kagok Kecamatan Banjaran Kab Majalengka sekarang). Dan akhirnya Keraton Sangiang di musnahkan sementara puing puing bekas Keraton Di hanyutkan ke danau Situ Sangiang bersama abu jenazah Prabhu Talagamanggung

------------------------------------------------------------------------------------------------

Informasi tentang Sejarah & Budaya Talaga - Majalengka
Klik di :
https://museumtalagamanggung.blogspot.com/
Penulis : Asep AsDHA Singhawinata

RAJA TALAGA KE II

PRABU DARMA SUCI I
(Peradaban Seni Dan Budaya di Talaga)



Gunung Ciremai , : 
Gambar di ambil dari Maja, Eks wilayah Kedaleman Lohmaja Ageng Kerajaan Talaga
Berdasarkan naskah Bujanggamanik, wilayah Kerajaan Talaga berada di kaki Gunung Ciremai


NAMA : Tidak diketahui
GELAR : PRABU DARMA SUCI I
MASA PEMERINTAHAN : Abad Ke XIII Masehi ,hingga wafat di awal abad ke XIV (Wawacan Nusantara)
NAMA ISTRI : Tidak diketahui
NAMA AYAH : Batara Gunung Bitung
NAMA IBU : Tidak Diketahui


ANAK :
1. Begawan Garasiang
2. Prabu Talagamanggung

Di Arcakan Sebagai : Tidak diketahui
Sumber Rujukan : Wawacan Talaga, Wikipedia, Wawacan Nusantara, tatangmanguny.wordpress.com

CATATAN :
Prabu Darmasuci I disebut juga Pandita Perabu Darma Suci. Dalam masa pemerintahannya (abad XIII) agama budha berkembang dengan pesat. Nama beliau dikenal di Kerajaan Pajajaran, Jawa Tengah, Jayakarta sampai daerah Sumatera. Dalam seni pantun banyak diceritakan tentang kunjungan tamu-tamu tersebut dari kerajaan tetangga ke Talaga. Apakah kunjungan tamu-tamu tersebut merupakan hubungan kekeluargaan saja, ataukah ada hubungan perdagangan atau politik, tidak banyak diketahui.

Prabu Darmasuci I juga yang pertama mengikrarkan Kerajaan Talaga yang berdaulat dan menetapkan Keraton Talaga berada di dekat Situ Sangiang sebagai pusat Pemerintahan Kerajaan Talaga.
Hal ini dibuktikan dengan adanya peninggalan patung prunggu “Amulet” (lambang negara) kerajaan talaga yang bernama Guriyang Buntutan (Guru Hiyang dari Talaga) yang berbentuk “Singha Mitologi” dengan kaki depan bagian kiri mengangkat. Dan adanya benda peninggalan berupa Batu Pentasbih (Batu Palungguhan) tempat penobatan Raja dan Putra Mahkta Kerajaan Talaga yang masih tersimpan di halaman Museum Talagamanggung

Dan beberapa Peninggalan lainnya yang masih ada dari Kerajaan Talaga masa pemerintahan Prabu Darmasuci I ini antara lain benda-benda perunggu, gong, dan harnas atau baju besi.

Pada awal abad ke XIV Masehi beliau wafat dengan meninggalkan 2 orang putera yakni: (1) Bagawan Garasiang, dan (2) Prabu Talaga Manggung.

--------------------------------------------------------------------------------------------

Informasi tentang Sejarah & Budaya Talaga - Majalengka
Klik di :
Penulis : Asep AsDHA Singhawinata

Senin, 20 April 2015

RAJA TALAGA KE I

BATARA GUNUNG BITUNG
(Pendiri Kerajaan Talaga)


Gunung Bitung
 Desa Wangkelang Kecamatan Cingambul Kabupaten Majalengka



NAMA : Rhakean çuddhayocha (Sudhayasa)
GELAR : Batara Gunung Bitung
MASA PEMERINTAHAN : Abad Ke XIII Masehi. Memerintah Selama 2 windu (16 tahun)
NAMA ISTRI : Tidak diketahui
NAMA AYAH : Rahyang Surya Dewata
NAMA IBU : Dewi Ajar Sukaresi


ANAK :
1. Sunan Cungkilak
2. Sunan Benda
3. Sunan Gombang
4. Ratu Ponggang Sang Romhiyang
5. Darma Suci I


Di Arcakan Sebagai : Tidak Diketemukan
Sumber Rujukan : Wawacan Talaga, Wikipedia, Wawacan Nusantara, https://www.tatangmanguny.wordpress.com


CATATAN :

Rujukan
Kitab Pustaka Rajya Rajya I Bhumi Nusantara (parwa III sargah 2 )
Karya Pangeran Wangsakerta Cirebon ,yang dibuat Tahun. 1677 M

..........// sang prabhu a-jighuna linggawiçesa gumantyaken dumadi raja lawasnya pitung warça / ing saharsa limangatus limang puluh lima tika ning saharsa rwangatus nemang puluh rwa / ikang çakakala // ing pasanggaman ira sang prabhu ajiguna linggawiçesa lawan ratu umma lestari maputra pirang siki jalu lawan stri // rwang siki pantaranya ya ta sang panuha ya ta sang prabhu ragamulya luhur prabhawa / atawa sang aki kolot ngaran ira waneh // putra dwitiya ya ta ratu samanta i mandala ghaluh yatiku raden suryadewata / atawa sang mokteng wanaraja i bhumi ghaluh ngaran ira waneh // ya ta pejah ri kala maburu satwa haneng i tengah wana // satulunya putra prathama ya ta prabhu raga gumantyaken rama nira dumadi mamrati i bhumi jawa kulwan salawas ira sapuluh warça / ing saharsa rwangatus nemang puluh rwa tka ning sa harsa rwangatus pitung puluh rwa / ikang çakakala // satuluyna prabhu ragamulya luhur prabawa mmaputra pirang siki rwang siki pantaranya yatiku prabhu maharaja linggabhuana / atawa sang mokteng bubat aranira waneh // dwitiya sang patih mangkubhumi çuradhipati / athawa bunisora / athawa sang mokteng ghegheromas ngaran ira waneh
// i sedeng mangene putra ning raden suryadewata hana pirang siki / salah tunggal pantaranya raden çuddhayoca / athawa bhatara gunung bitung ngaran ira waneh // raden çuddhayoca naher dumadi f dang upasakagóng budhayana sarawastiwada i ghunung bitung // hana pwa putra sang bhatara ghunung bitung raden darmasuci ngaran irakweh pariwara mwang sisya nira // matangyan sira madeg rajaguru budhayana sarwastiwada i mandala talaga sapinasuk galuh pandeça // ri hawusnya prabhu darmasuci pejah ginantyaken dening swaputra nira madeg raja talaga yatiku prabhu talagamanggung ngaran ira // ....


Terjemahan teks yang berwarna merah (kurang lebih) mengisahkan :
Putra raden surya dewata ada beberapa orang, salah satu diantaranya raden sudhayoca (sudhayasa) atau bathara ghunung bitung di sebutnya// raden sudhayasa menjadi pengamal agung budhayana sarwastiwada di ghunung bitung // salah satu putra barthara ghunung bitung adalah raden darmasuci setelah dia berhenti menjadi raja guru budhayana sarwastiwada di negri talaga // setelah darmasuci meninggal maka yang menggantikannya adalah Prabhu Talagamanggung.
(Penterjemah . Asep Asdha Singhawinata 05/03/17)


Silsilah Rhakean Sudhayasa
Prabu Citraganda memerintah di Kerajaan Sunda (termasuk Galuh dan Galunggung) sampai tahun 1311 Masehi.
Pengganti Prabu Citraganda, puteranya, Prabu Linggadewata. la memegang kekuasaan di Kerajaan Sunda , sampai tahun 1333 Masehi.

Sebagai pengganti Prabu Citraganda, adik iparnya, Prabu Ajiguna Linggawisesa.Karena, Prabu Ajiguna Linggawisesa, menikah dengan adiknya Prabu Citraganda: RatnaUmalestari.
Pada masa pemerintahannya, ibukota Kerajaan Sunda beralih, dari Pakuan(Bogor) ke Kawali (Ciamis). Dari pernikahannya dengan Uma Lestari, Prabu AjigunaLinggawisesa memperoleh putera, di antaranya:

1. Ragamulya Luhur Prabawa, atau Aki Kolot;
2. Dewi Kiranasari, diperisteri oleh Prabu Arya Kulon;
3. Suryadewata, (Sang Mokteng Wanaraja)

Prabu Ajiguna Linggawisesa wafat tahun 1340 Masehi. Kemudian digantikan olehputeranya, Prabu Ragamulya Luhur Prabawa, yang memerintah di Kerajaan Sundasampai tahun 1350 Masehi

Sementara , putera ke tiga dari pasangan Prabhu Ajighuna linggawisesa dan Dewi Ummu Lesthari, yang bernama Rd Surya Dewata menikah dengan Dewi Ajar Sukaresi, putri cantik yang masih keturunan Raja pajajaran. sementara Suryadewata sendiri lebih memilih menjadi pertapa dan sebagai penasehat kerajaan.
Dari pernikahan itulah mempunyai anak yang bernama Rhakean (çuddhayoccha) / Sudayasa atau Batara Ghunung Bitung , yang merupakan pendiri Kerajaan Talaga.

Berdirinya Kerajaan Talaga
Kerajaan bercorak “budha sunda” hal itu di buktikan dengan adanya beberapa peninggalan berupa patung patung budha yang masih tersimpan di museum talagamanggung.

Talaga berdiri pada tahun 1400an Masehi. Yang didirikan oleh Rd Sudhayasa di Ghunung Bitung , sebuah perbukitan desa wangkelang kemantren Cingambul Kecamatan Cikijing. Dari nama itulah Rhakean Sudhayasa dijuluki sebagai Bathara Ghunung Bitung. Yang artinya “Bathara (orang pintar) dari Gunung Bitung.”

Pada awalnya , Rhakean Sudhayasa termasuk orang yang tidak betah tinggal di keraton .
Beliau memutuskan untuk pergi ke Gunung Bitung dan menjadi pertapa disana ,sambil mengamalkan ajaran “budhayana sarwastiwada” .
Selang beberapa bulan sejak beliau bermukim di Gunung Bitung, masyarakat mulai mengetahui bahwa di Gunung Bitung ada seorang Resi Mumpuni, sehingga mereka tertarik untuk berguru pada beliau.

Berita itu tersebar kemana mana, sehingga tak hanya masyarakat sekitar Gunung Bitung saja yang ingin berguru pada beliau, tetapi dari dareah lain pun berdatangan, sehingga dibuatlah “Padepokan” (tempat berguru) dengan nama "Mandala Gunung Bitung". Dari situlah Sang Bhatara Ghunung Bitung memperoleh gelar Dang Upacaka Agung Budhayana Sarwastiwada. Atau kurang lebih berarti “Sang Pengamal Agung Ajaran Budha Sarwastiwada.”

Pada kesehariannya Raden Sudhayasa tak hanya mumpuni dalam mengamalkan ajarannya, tapi piawai juga dalam kepemimpinan dan ilmu ketata negaraan . hingga para pengikutnyapun mengangkat beliau menjadi pemimpin dalam hal ber masyarakat. Dan mengangkat beliau menjadi seorang raja dengan gelar Raja Guru Bathara Ghunung Bitung.

Setelah beliau menikah beliau makin mengmbangkan ajarannya. Dan kepemimpinannya pun sangat dirasakan adil pramapta oleh pengikutnya. Karena semakin hari semakin banyak pengikutnya , beliau memindahkan padepokannya ke sebuah daerah dekat danau yang bernama Situ Sanghiyang (sekarang terletak di Kec Banjaran Kab Majalengka) . Yang kemudian diberi nama Wewengkon “Talaga” (daerah dekat danau).

Disitulah beliau membangun padepokan sekaligus tempat untuk mengatur tata pemerintahan yang dibantu oleh para putra putrinya.
Tampuk pemerintahan Batara Ghunung Bitung berlangsung 2 windu (16 tahun). dan diawal berdirinya Kerajaan Talaga, Talaga merupakan negara yang berdaulat, atau bukan negara bagian dari negara manapun, sementara dukungan dan bantuan dari Kerajaan Galuh dan Cirebon terus mengalir sebagai negara sahabat dan karna adanya ikatan saudara antara Kerajaan Galuh dan pendiri Kerajaan Talaga.

Kerajaan Talaga meliputi wilayah-wilayah yang sekarang disebut dengan Talaga (dan Banjaran), Cikijing (termasuk Cingambul), Bantarujeg, Lemahsugih, Maja (termasuk Argapura) dan bagian selatan Majalengka (Cigasong dan Girilawungan).

Pemerintahan Batara Gunung Bitung sangat baik. Agama yang dipeluk rakyat kerajaan ini adalah agama budha sunda. Pada masa pemerintahaannya pembangunan prasarana jalan perekonomian telah dibuat sepanjang lebih 25 Km, tepatnya jalur jalan Talaga – Salawangi di daerah Cakrabuana. Pembangunan lainnya berupa perbaikan pengairan di Cigowong yang meliputi semua saluran pengairan di daerah Cikijing.
Rakean Sudhayasa berputra  5 orang yaitu : (1) Sunan Cungkilak, (2) Sunan Benda, (3) Sunan Gombang, (4) Ratu Panggongsong Ramahiyang (ada yang menulis Pagongsong Romahiyang), (5) Prabu Darma Suci I, dan 

Setelah meletakkan jabatan, pemerintahan Kerajaan Talaga selanjtunya dilanjutkan oleh Prabu Drama Suci I. Dan Batara Gunung Bitung kembali bertapa di gunung bitung daerah pertama yang beliau tinggal di wilayah Talaga.



------------------------------------------------------------------------------------------------------



Informasi tentang Sejarah & Budaya Talaga - Majalengka
Klik di :
Penulis : Asep AsDHA Singhawinata