Jumat, 31 Agustus 2018

TITI MANGSA DESA CIDULANG





Berdirinya Desa Cidulang tak lepas dari Terbentuknya Kewadanaan Talaga dan Asisten Wadana Cikijing ada juga yang menyebut district untuk kewadanaan dan onder district untuk asisten wadana atau sekarang disebut dengan Kecamatan.

Suasana Desa Cidulang diambil gambar dari atas

Sewaktu pemerintahan Gubernur Jenderal Daendels (1808-1811), Jawa dibagi menjadi 9 provinsi. Pada waktu Inggris berkuasa, Gubernur Jenderal Thomas Raffles membagi Jawa menjadi beberapa karesidenan. Terlepas dari beberapa perubahan di tahun-tahun berikutnya, perubahan besar sistem administrasi di Jawa terjadi pada tahun 1901, 1925, dan 1931.

Tahun 1819 Berdasarkan Besluit Komisaris Jenderal Hindia Belanda Nomor 23 Tahun 1819 Tanggal 5 Januari 1819 tentang Pendirian Kabupaten Maja.
Regenschaft Maja bukan gabungan Talaga dengan Sindangkasih saja, tapi termasuk Rajagaluh, Palimanan, dengan Kedongdong. Ada tulisan yang menyebut Kabupaten Talaga dengan Kabupaten Maja agung, kala itu belanda mengharuskan gabung (regrouping) menjadi kabupaten Maja (1819-1840),

Dan di tahun 1920, dibentuklah Kewadanan (distrik) Talaga yang wilayahnya meliputi Onder District (Kecamatan) Bantarujeg Lemahsugih, Talaga dan Cikijing.


Koleksi Tropenmuseum
Menggambarkan 3 anak Belanda yang di poto di sebuah Jembatan Bambu
di jalan Cikijing arah Kuningan
diduga kuat poto ini diambil di wilayah Desa Cidulang
Tahun 1918
 


I. ASAL MULA DESA CIDULANG


"Dulang" alat tradisional khas masyarakat sunda
yang berfungsi untu mendinginkan dan menyimpan nasi


Tersebutlah sebuah Desa yang mempunyai peranan penting dalam tatanan pemerintahan Onder Distrik Tjikidjing . desa terluas di wilayah tersebut itu disebut desa " TJIDOELANG "  (Cidulang).

Secara toponomi, penamaan Cidulang diambil dari 2 suku kata yaitu Ci (tempat) ada yang menyebut air (cai) dan Dulang, yang berarti tempat mendinginkan nasi yang terbuat dari batu atau kayu tertentu.

Sangat sulit menemukan naskah, artefak atau fakta terkait mengenai awal mula berdirinya Desa Cidulang. Hanya beberapa Tradisi Lisan yang berkembang di masyarakat , dan beberapa catatan zaman Belanda yang bisa saya temui dan masih tersimpan di beberapa situs internet milik Belanda.




Cidulang Kecamatan Cikijing dan sekitarnya
yang diambil gambar dari
Cipadung - Sindangpanji Tahun 1800an


Konon Keberadaan Cidulang tak lepas dari keberadaan tokoh yang bernama Wangsadirja ada yang menyebut Rd. Wangsadireja. seorang abdi dalem (Pejabat) Kerajaan Talaga di era Rd Adipati Suwarga. (1675-1715m).

Beliau adalah seorang Abdi Dalem Kerajaan Talaga yang ditugaskan memimpin pengelolaan lahan pertanian milik Kerajaan Talaga yang terhampar mulai dari Cingambul sampai ke Sindangpanji dan Citungtung -Cicanir (Talaga).

Beberapa sumber lisan menyatakan bahwa sebelum dinamakan Cidulang , Rd.Wangsadireja pernah menetap di satu tempat yang ia namai Cikijing Girang , atau sering dan lajim disebut Cigirang ( sekarang menjadi salah satu blok di Desa Cidulang).

Pada satu ketika, diadakan pesta panen besar besaran di areal pesawahan yang Ia kelola, karena mengundang para Keluarga Besar Kerajaan Talaga, lalu Rd Wangsadireja memerintahkan untuk membuat dapur umum di satu tempat. Dan disanalah orang orang membuat aneka masakan.

Setelah acara berlangsung . bekas dapur umum itu di bersihkan kembali, namun, disana masih tersisa satu buah alat mendinginkan nasi (Dulang) yang tebuat dari pahatan batu. maka dari situlah tempat tersebut dinamakan TJIDOELANG /CI DULANG. (tempat dulang). konon dulang tersebut di kubur di dekat makom Dalem Wangsadireja.

- Misteri Kuda Paeh.


Ilustrasi Bangkai kuda di Komplek Sawah lega Cidulang




Salah satu areal persawahan yang masih masuk kedalam wilayah Desa Cidulang sebelah selatan, terdapat satu (gundukan) tanah yang dipercaya orang sebagai tempat matinya kuda milik Patih Kerajaan Talaga. saat itulah , hingga sekarang, areal pesawahan itu sering disebut wilayah Kuda Paeh (Kuda Mati)

Tradisi lisan menyatakan bahwa:
Sebagai betuk terimakasih Pemerintah Kerajaan Talaga kepada Rd Wangsadireja. atas keberhasilan mengelola lahan pertanian, maka beliau di hadiahi sebidang tanah yang diatasnya terdapat bangkai KUDA . dan utuk menentukan batas batas tanah hadiah itu dengan cara , utusan dari Kerajaan Talaga berjalan bersama Rd Wangsadireja mengililingi sambil menjauhi bangkai kuda sampai bau busuk bangkai kuda itu tidak tercium lagi.

Konon, karna kesaktian Rd Wangsadirja, sehingga selama berjalan mengelilingi menjauhi bangkai kuda itu, selalu diikuti oleh hembusan angin. Sehingga semakin menjauh dari bakai kuda semakin tercium bau busuknya.

Dan hingga sekarang ada satu areal persawahan yang masuk kedalam wilayah Desa Cidulang, tetapi lokasinya terpisah dari Desa Cidulang. areal itu disebut komplek Sawah Lega. yang terletahkdi jalan Raya Cikijing arah ke Kabupaten Ciamis.


Komplek Sawah Lega desa Cidulang



II. Cidulang pada masa Pemerintahan Republik Indonesia

Sebelum Negara Republik Indonesia Merdeka, Cidulang telah ditetapkan sebagai wilayah Desa oleh pemerintahan Hindia Belanda . Dan Desa Cidulang dibentuk pada tahun 1932.m. Kala itu dipimpin oleh seorang Kepala Desa (Kuwu) yang bernama Kuwu Sastra Prawira.

Beliau menjabat sebagai Kepala Desa dari tahun 1932 sampai tahun 1956.
Kala itu Desa Cidulang mempunyai wilayah yang sangat luas, dan meliputi wilayah yang sekarang sudah dimekarkan menjadi Desa : Cimukti+Sukaraos (Sukamukti) Cidulang, dan Sindangpanji.

III. Letak Geografis

Desa Cidulang berada di wilayah Kabupaten Majalengka bagian selatan dengan koordinat
108°18’30” BT – 108°22,5’30” BT dan 07°04’30” LS – 06°56’30” LS

Yang berbatasan dengan Kabupaten Kuningan dan Kabupaten Ciamis. Desa Cidulang dibatasi oleh beberapa wilayah administrasi pemerintahan, yaitu:

Sebelah Utara : Berbatasan dengan Desa Jagasari
Sebelah Barat : Berbatasan dengan Desa Cikijing dan Sukamukti
Sebelah Timur : Berbatasan dengan Desa Sindangpanji
Sebelah Selatan : Berbatasan dengan Desa Sindangpanji

IV. Kepala Desa Cidulang dari masa ke masa

Hingga saat ini sudah 18 kali pergantian kepemimpinan Desa Cidulang dari sejak berdirinya Desa tersebut, diantaranya :
Kuwu Sastra Pawira (Baci) menjabat dari tahun 1932-1956 Masehi
Kuwu Aan Sutarli menjabat dari tahun 1956-1969 Masehi
Kuwu Omon Soerisman menjabat dari tahun 1970-1981 Masehi
Kuwu Ruja’i menjabat dari tahun 1981-1982 Masehi
Kuwu A. Rohman menjabat dari tahun 1982-1985 Masehi
Kuwu Usa Supriatna menjabat dari tahun 1985-1987 Masehi
Pejabat Omon Soerisman menjabat dari tahun 1988-1990 Masehi
Kuwu Suharyono menjabat dari tahun 1991-1992 Masehi
Pejabat Omon Soerisman menjabat dari tahun 1993-1995 Masehi
Pejabat Soleh menjabat dari tahun 1995-1997 Masehi
Pejabat Omon Soerisman menjabat dari tahun 1998-2002 Masehi
Kuwu Soleh menjabat dari tahun 2003-2005 Masehi
Pejabat Omon Soerisman menjabat dari tahun 2005-2007 Masehi
Kepala Desa Yaya Mulyadi menjabat dari tahun 2008-2013 Masehi
Pejabat N. Teti Kurniati menjabat dari tahun 2013-2014 Masehi
Pejabat Kukun Kuria, S.IP menjabat di tahun 2014 Masehi selama 6 bulan
Pejabat Mahmud Al Nazar, SE menjabat di tahun 2015 Masehi selama 6 bulan
Kepala Desa .Hj. Teti Kurniati menjabat dari tahun 2015-sekarang

Jabatan Kuwu di Desa Cidulang sangat bervariasi ada yang lima tahun, ada yang delapan tahun, tergantung pada terpakai atau tidaknya oleh masyarakat Desa Cidulang, namun setelah Peraturan Daerah Kabupaten Majalengka ditetapkan jabatan Kuwu hanya lima tahun. Pekerjaan Kuwu di Desa Cidulang layaknya seperti desa-desa yang lain dibantu oleh para Kaur Raksa Bumi, Ngalambang, Lebe, Rurah dan Kulisi Desa.
wallohua'lam

 
=====================================================================

sumber
www.wikipedia.com
museum talagamanggung
tradisi lisan sesepuh cikijing
tradisi lisan sesepuh talaga
tradisi lisan sesepuh cidulang
data desa cidulang
tropenmuseum leiden nederland
dan sumber lainnya



Catatan artikel ini terdedikasi untuk
Saudara Saudariku yang berada di Desa Cidulang Kecamatan Cikijing
khususon ibu Kuwu Hj. Teti Kurniati & Bpk. H Yaya Mulyadi

wass
Asep Asdha Singhawinata
Penulis / Pemerhati Budaya




Informasi tentang Sejarah & Budaya Nusantara
klik di

Penulis : Asep AsDHA Singhawinata







1 komentar: